Powered By Blogger

Selasa, 06 Desember 2011

sex dan gender

Seks atau jenis kelamin adalah hal yang paling sering dikaitkan dengan gender dan kodrat. Pada dasarnya istilah sex dan gender itu berbeda pengertiannya. Jika kita berbicara tentang istilah ‘sex’ berarti kita berbicara tentang pria atau wanita yang perbedaannya berdasarkan pada jenis kelamin. Dengan kata lain bahwa sex ini mengacu pada perbedaan antara pria dan wanita berdasar pada jenis kelamin yang ditandai oleh adanya perbedaan anatomi tubuh dan genetiknya. Perbedaan inilah yang sering kita sebut perbedaan secara biologis yang bersifat kodrati atau sudah pasti melekat pada masing-masing individu sejak lahir. Oleh karena itu, seorang pria  mempunyai kumis, jenggot, jakun, dan bentuk anatomi tubuh lainnya yang tidak dimiliki oleh seorang wanita. Begitu pula seorang wanita yang mempunyai rahim, sel telur, dan bentuk anatomi tubuh lainnya yang tidak dimiliki oleh seorang pria. Kedua perbedaan antara pria dan wanita tersebut tidak dapat dipertukarkan. Karena hal itu bersifat kodrati atau dengan kata lain bersumber langsung dari Tuhan. Berdasarkan hal tersebut, logikanya seseorang dapat dikatakan ‘melanggar kodrat’ jika mencoba melawan atau mengubah fungsi-fungsi biologis yang ada pada dirinya.
Sedangkan gender sama sekali berbeda dengan pengertian jenis kelamin atau sex. Gender itu bukanlah jenis kelamin. Gender bukan perempuan ataupun laki-laki. Gender hanya memuat perbedaan fungsi dan peran sosial laki-laki dan perempuan, yang terbentuk oleh lingkungan tempat kita berada. Gender adalah berbagai karakteristik yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam kasus laki-laki dan perempuan juga atribut maskulin serta feminin yang ditugaskan kepada mereka.
Maskulinitas, menurut Collins Dictionary , memiliki kualitas atau karakteristik yang dianggap khas atau tepat untuk seorang pria. Istilah ini dapat digunakan untuk menggambarkan hewan, manusia atau objek yang memiliki kualitas yang maskulin. Ketika maskulin digunakan untuk menggambarkan laki-laki, dapat memiliki derajat perbandingan-lebih maskulin, yang paling maskulin. Sedangkan, feminitas adalah seperangkat atribut, perilaku, dan peran yang umumnya dikaitkan dengan wanita. Sifat yang terkait dengan feminitas meliputi berbagai faktor sosial dan budaya, dan sering bervariasitergantung pada lokasi dan konteks. Ciri-ciri perilaku yang dianggap feminin meliputi kelembutan, empati, dan kepekaan.
Gender tercipta melalui proses sosial budaya yang panjang dalam suatu lingkup masyarakat tertentu, sehingga dapat berbeda dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Misalnya, laki-laki yang memakai tato di badan dianggap hebat oleh masyarakat dayak, tetapi di lingkungan komunitas lain seperti Yahudi misalnya, hal tersebut merupakan hal yang tidak dapat diterima. Gender juga berubah dari waktu ke waktu sehingga bisa berlainan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Contohnya, di masa lalu perempuan yang memakai celana panjang dianggap tidak pantas sedangkan saat ini dianggap hal yang baik untuk perempuan aktif.



Pembahasan gender lebih menekankan pada karakteristik seperti perilaku, sikap, dan peran yang menempel atau ada pada pria dan wanita yang berasal dari konstruksi sosial. Oleh karena itu, karakteristik tersebut (perilaku, sikap dan peran) dapat dipertukarkan. Dalam hal ini, pria dapat berperan selayaknya pria namun juga bisa berperan sebagai wanita (menjalani nilai-nilai feminin: memasak, menjahit, menjaga anak, dan sebagainya). Sedangkan wanita juga berperan sebagaimana seorang wanita, namun sudah banyak sekarang wanita yang menggeluti peran pria juga (menjalani nilai-nilai maskulin: menarik becak, bekerja di kantor sebagai wanita karir, supir Busway, dan sebagainya).
Maka dari itu, karena gender tercipta dari konstruksi sosial, maka gender bersumber dari manusia atau masyarakat. Apa yang menjadi perbedaan antara pria dan wanita seperti harkat dan martabatnya dapat saling dipertukarkan. Perbedaan manusia yang seperti ini berdampak pada terciptanya norma-norma tentang ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’ sehingga sering merugikan salah satu pihak yang mana kebetulan adalah wanita. Sebagai contoh yaitu, wanita tidak pantas menarik becak atau menjadi montir di bengkel. Wanita itu lebih pantas di rumah, memasak dan mengurus anak. Begitu pula dengan pria yang tidak pantas berbelanja ke pasar atau mencuci piring di rumah. Pria lebih pantas berada di lapangan, bekerja, mencari nafkah, dan sebagainya. Namun, fenomena tersebut sudah semakin bergeser karena karakteristik pria dan wanita dalam gender dapat berubah atau bersifat musiman.
Kesetaraan Gender memberikan pilihan, peluang dan kesempatan tersebut sama besarnya pada perempuan dan laki-laki. Supaya lebih jelas bagaimana kita bisa melihat kesetaraan Gender terjadi dalam lingkup kegiatan sehari-hari, berikut ilustrasi sederhana yang terjadi pada dua keluarga:
Yang pertama adalah seorang istri yang memilih bekerja di rumah dan suaminya memilih bekerja buruh di pabrik. Pada saat mengambil keputusan di keluarga, istri bebas menentukan apakah dia ingin bekerja di luar atau di dalam rumah. Demikian juga sang suami tidak keberatan untuk bertukar peran suatu saat istrinya mempunyai kesempatan bekerja di pabrik. Dalam hal ini kita bisa mengatakan bahwa telah tercipta kesetaraan Gender di dalam keluarga tersebut. Istri tidak dipaksa suami untuk tinggal di rumah dan suami tidak diharuskan bekerja di pabrik. Mereka memilih peran tersebut atas dasar kemampuan dan keinginan masing-masing pihak, tidak ada paksaan ataupun tekanan dari istri maupun suami. Kesetaraan Gender tercipta manakala istri dan suami mempunyai peluang yang sama untuk memilih jenis pekerjaan yang disukainya dan mempunyai posisi yang sama saat mengambil keputusan dalam keluarga.
Yang kedua, adalah seorang perempuan yang bekerja sebagai pengacara. Orang menganggap dia sudah sadar Gender, berpikiran modern dan sudah menikmati kesetaraan Gender dalam keluarganya. Penampilannya yang tegas dan gaya bicaranya lantang di depan publik, seolah-olah telah menghapus bayangan stereotype perempuan tradisional. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah dia tidak memilih pekerjaan menjadi pengacara, melainkan terpaksa menjadi pengacara karena suaminya seorang pengusaha yang menginginkan sang istri menangani urusan-urusan hukum dengan klien-klien bisnisnya. Sang istri selalu bekerja dibawah tekanan suami, tidak mempunyai kebebasan mengeluarkan pendapatnya dan tidak mempunyai kesempatan untuk memilih pekerjaan lain yang diinginkannya.
Kita seringkali membuat dan menilai sesuatu hanya dari penampakan luarnya saja. Demikian pula halnya dengan kesetaraan Gender. Orang sering menghubung-hubungkan kesetaraan Gender dengan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan. Namun, melihat contoh kedua keluarga di atas, jelas bagi kita bahwa jenis pekerjaan seseorang ataupun tempat bekerja yang dipilih oleh seseorang bukanlah ukuran yang dapat menunjukkan adanya kesetaraan Gender. Kesetaraan Gender ditunjukkan dengan adanya kedudukan yang setara antara laki-laki dan perempuan di dalam pengambilan keputusan dan di dalam memperoleh manfaat dari peluang-peluang yang ada di sekitarnya. Kesetaraan Gender memberikan penghargaan dan kesempatan yang sama pada perempuan dan laki-laki dalam menentukan keinginannya dan menggunakan kemampuannya secara maksimal di berbagai bidang. Tidak peduli apakah dia seorang ibu rumah tangga, presiden, buruh pabrik, supir, pengacara, guru ataupun profesi lainnya, jika kondisi-kondisi tersebut tidak terjadi pada dirinya maka dia tidak dapat dikatakan telah menikmati adanya kesetaraan Gender.



Referensi ...

Wiliam-de Vries, D. 2006. Gender bukan tabu: catatan perjalanan fasilitasi kelompok perempuan di Jambi. Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research (CIFOR)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feedback please ...