Seperti yang kita ketahui bahwa psikologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya serta proses mental atau jiwa manusia. Bila kita melihat dalam perspektif islam, maka banyak sekali hal-hal yang dapat kita bahas di dalamnya. Atau yang biasa kita sebut dengan psikologi islami, yaitu ilmu yang berbicara tentang manusia, yang filsafat, teori, metodologi, dan pendekatannya didasarkan pada sumber-sumber formal islam (Djamaludin Ancok & Nashori Suroso, 1994). Selain itu, ada pula pendapat lain mengenai pengertian dari psikologi islami ini, yaitu suatu corak psikologi berlandaskan citra manusia menurut ajaran islam, yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagaman (Rumusan Simposium Nasional Psikologi Islami 1, 1994).
Dalam Islam sendiri telah diberikan penjelasan tentang kesehatan sejak manusia itu dilahirkan ke dunia. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bersih, dan fitrah. Pernyataan ini merupakan bukti bahwa Islam telah menanamkan kebersihan, kesucian, dan kesehatan sejak dini agar tidak ada ketimpangan dalam menjalani kehidupan di dunia. Namun, jika hal tersebut diabaikan, maka akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, baik itu yang merusak diri sendiri maupun orang lain.
Sakit dan sehat merupakan dua hal yang kerap kali menghampiri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sakit merupakan suatu hal yang dibenci dan tidak disukai oleh manusia serta sangat mengganggu ketentraman hidup manusia. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha dan berjuang untuk mancari kesembuhan dari penyakit yang diderita agar dapat sehat kembali seperti semula. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa betapa kesehatan itu sangat penting bagi kehidupan manusia. Jika manusia dalam keadaan sehat, maka manusia tetap Semangat untuk hidup Bahagia dan Produktif (taggline hari kesehatan mental sedunia tahun 2011.
Dari apa yang telah dipaparkan di atas, menunjukkan bahwa psikologi itu sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental. Apakah yang disebut dengan kesehatan mental? Kesehatan mental yaitu berfungsinya akal pikiran, ingatan, dan kesadaran terhadap apa yang seharusnya dan sepatutnya dilakukan atau tidak dilakukan juga kesadaran yang berada dalam koordinasi nurani (Adz Dzakiey, dalam Budiharto, 2011). Kesehatan mental dan jiwa tidak dapat dipisahkan dengan kesehatan fisik sebab ketika seseorang mengalami sakit secara fisik, terkadang merusak mental dan jiwanya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, kesehatan mental dan jiwa harus lebih ditingkatkan.
Manusia merupakan makhluk yang dikaruniai akal sehingga mempunyai kesadaran untuk mengetahui problematika yang mengganggu kesehatan jiwanya. Manusia juga mempunyai strategi coping (kemampuan menyelesaikan masalah) sebagai upaya mengatasi setiap problematika yang dihadapi. Upaya tersebut sangatlah beragam, mulai dari hal-hal yang bersifat mistik irasional, rasional, konsepsional dan ilmiah. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan yang berasal dari barat modern, dimana mereka mencoba menawarkan solusi untuk mengatasi masalah kejiwaan dengan menggunakan pendekatan psikologi (kesehatan mental). Selain itu, Islam pun menawarkan solusi yang bersifat religius spiritual yang akan menuntun manusia memperoleh kesehatan dan kebahagiaan. Islam beragam dengan tuntutan kesehatan karena tujuan pokok yang ingin dicapai adalah untuk menjaga kesehatan jiwa, akal, jasmani, dan lain-lain.
Salah satu aplikasi psikologi islami dalam meningkatkan kesehatan mental adalah dengan konseling dan psikoterapi islami. Dimana konseling islami adalah bimbingan untuk perbaikan, penyelesaian masalah, kemajuan prestasi, penyehatan mental, spiritual, sosial, dan fisik berdasarkan sumber formal ajaran islam. Sedangkan psikoterapi islami adalah proses penyembuhan gangguan fisik, mental, spiritual, dan sosial berdasarkan sumber formal ajaran islam.
Berikut beberapa metode konseling islami yang dapat dilakukan oleh para psikolog islam dalam meningkatkan kesehatan mental manusia:
1. Bil Hikmah, yaitu memohon pertolongan kepada Allah melalui penghayatan dan penemuan makna atas setiap peristiwa yang dialami serta penghayatan ibadah ritual.
2. Nasihat yang positif/ Al Mauidhoh al Hasanah, yaitu berbagi pengalaman, hasil kajian ilmiah, keteladanan orang yang baik.
3. Dialog yang bijaksana/ mujadalah bil ahsan, yaitu berdialog, berdiskusi, berdebat dengan sehat, dan bijaksana (Adz-Dzaky, 2004)
Seperti yang tercantum dalam QS. An Nahl ayat 125: “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan al-mauidhoh al-hasanah, dan mujadalah bil ahsan. Sungguh Tuhanmulah yang Lebih Mengetahui siapa yang tersesat di jalan-Nya, dan Dialah yang Lebih Mengetahui orang yang mendapat bimbingan”.
Kemudian aplikasi psikologi islami dalam kesehatan mental yang kedua adalah metode psikoterapi islami. Metode tersebut dilakukan dengan pengamalan ibadah ritual seperti sholat, dzikir, doa, membaca Qur’an, puasa, zakat, infaq, sedekah, haji, dan umroh. Lalu dapat pula dilakukan dengan cara pengamalan akhlak mulia dan adaptasi terapi kontemporer. Misalnya dengan terapi sholat, terapi dzikir, terapi doa, terapi membaca, mendengarkan dan menghayati Al Qur’an, terapi puasa, taubat, sabar, dan syukur.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
feedback please ...