Powered By Blogger

Minggu, 25 September 2011

TEORI INTELEGENSI

Postingan ini sekedar pengetahuan untuk yang sedang mengikuti perkuliahan Asesmen Bakat dan Kognitif, teori-teori intelegensi ini sangat berperan dalam dunia alat tes psikologi. Salah satu alat tes yang sangat kita kenal adalah tes binet yang dicetuskan oleh Alfred Binet. Tidak hanya Binet saja yang akan dibahas di sini, tetapi juga teori-teori intelegensi dari para tokoh yang lain. Smoga bermanfaat ^_^



1.      Frank S. Freeman (1976)
Frank mendefinisikan bahwa intelegensi adalah kemampuan adaptasi atau penyesuaian, yakni kemampuan seseorang untuk menyesuaikan dengan alam sekitar. Kemampuan belajar, the ability to learn intelligence is the learning ability”. Kemampuan berpikir abstrak.


2.      Flynn (1987)
Flynn mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman. Menurut Flynn, untuk memahami mengapa IQ bisa meningkat antar generasi, adalah dengan melihat salah satu alat uji IQ yang paling sering digunakan, yaitu WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children). Pengukuran ini berdasarkan fenomena flynn effect bahwa berdasarkan data yang terkumpul, Flynn melihat dan menyimpulkan bahwa terdapat kecenderungan hasil tes IQ di seluruh dunia meningkat sebesar 0,3 poin setiap tahun, atau 3 poin setiap dekade. kesimpulan ini kemudian dikenal sebagai Flynn-effect.

3.      Baldwin (1922)
Intelegensi adalah daya atau kemampuan untuk memahami (Azwar: 2008). Menurut fenomena yang dikenal sebagai efek Baldwin, karakteristik yang dipelajari atau berkembang pada masa hidup menjadi tersandi secara bertahap dalam genome dalam banyak generasi, karena organisme dengan predisposisi lebih kuat untuk mendapatkan sifat memiliki keuntungan selektif. Sepanjang generasi, jumlah paparan lingkungan yang diperlukan untuk mengembangkan sifat menurun, dan akhirnya tidak ada paparan lingkungan yang diperlukan – sifat ini tersandi secara genetis.

4.      V. A. C. Henmon (1974)
Henmon berpendapat bahwa teori inteligensi terdiri dari dua macam faktor, yaitu kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengetahuan yang telah diperoleh.

5.      David Wechsler (1958)
Inteligensi adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif. Menurutnya, kecerdasan juga merupakan kapasitas global untuk bertindak dengan sengaja, untuk berpikir rasional, dan untuk menangani lingkungannya secara efektif. Ia juga berpendapat bahwa kecerdasan bukanlah kemampuan tunggal tapi banyak segi.

6.      Alfred Binet (1857)
Menurut Binet, Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang, bersifat monogetik, yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau umum (Azwar :2008).
Alfred Binet dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara (ahli hukum). Hasil karya terbesar dari Alfred Binet di bidang psikologi adalah apa yang sekarang ini dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Sebagai anggota komisi investigasi masalah-masalah pendidikan di Perancis, Alfred Binet mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental (the mental age atau MA) anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Dengan kata lain, jika seorang anak dapat menyelesaikan suatu test atau memberikan respons secara tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diperuntukan bagi anak berusia 8 (delapan) maka ia dikatakan telah memiliki usia mental 8 (delapan) tahun.
Test yang dikembangkan oleh Binet merupakan test intelegensi yang pertama, meskipun kemudian konsep usia mental mengalami revisi sebanyak dua kali sebelum dijadikan dasar dalam test IQ. Pada tahun 1914, tiga tahun setelah Binet wafat, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia mental anak dengan usia kronological (Chronological Age atau CA), maka akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud “Intelligence Quotient”. Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford University, yang mengembangkan test untuk orang-orang Amerika. Lewis mengalikan formula yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan statistik inilah yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan Intelligensi seseorang: IQ=MA/CA*100. Test IQ inilah yang dikemudian hari dinamai Stanford-Binet Intelligence Test yang masih sangat populer sampai dengan hari ini.

7.      Theodore Simon
Alfred Binet (1857-1911), tokoh utama perintis pengukuran inteligensi, bersama Theodore Simon mendefinisikan inteligensi dengan tiga komponen, yaitu:
1)      kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan,
2)      kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan, dan
3)      kemampuan untuk mengkritik diri sendiri (autocriticsm).

8.      H. H. Goddard (1946)
Mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah – masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah – masalah yang akan datang (Azwar : 2008). Menurut H H Goddard, ahli psikologi yang pertama kali membawa tes IQ ke Amerika Serikat, keunggulan ini bersifat turun menurun. Namun permasalahan sebenarnya ada pada saat perancangan tes, di mana item-item yang dipilih dalam tes kecerdasan tersebut yang merupakan hal-hal yang sangat familiar dalam konteks kebudayaan para pembuat tes, namun belum tentu untuk kebudayaan lainnya. Logika sederhananya adalah mereka yang lebih familiar dengan item-item tes tentunya akan dapat menjawab dengan lebih mudah dan akurat.
Tes-tes kecerdasan ini membawa pengaruh besar terhadap berbagai cara perancangan standardized testing yang kita kenal sekarang. Formatnya tes-tes ini sangat menguntungkan bentuk kecerdasan linguistik, kecerdasan logika, dan kecerdasan visual, dan tidak menguntungkan bentuk-bentuk kecerdasan lainnya, seperti kecerdasan intrapersonal, intrapersonal, kinestetik, naturalist, dan musik-ritmik. Tes IQ dan tes-tes keturunannya ternyata bias dan diskriminatif. Namun ironisnya, justru tes-tes seperti inilah yang sering digunakan sebagai penentu nasib siswa. Misalnya dalam fenomena sekolah unggulan dan non unggulan, tes-tes (biasanya matematika dan bahasa) seperti ini sering dijadikan sebagai alat penentu dalam pengelompokan para siswa ke dalam kategori unggulan dan non unggulan.

9.      Walter dan Gardner
Mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan yang memungkinkan individu untuk memecahkan masalah. Dari pendapat serta teori yang dilontarkan para ahli psikologi diatas dapat kita tarik kesamaan dari definisi tentang intelegensi, bahwa intelegensi merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seorang individu dalam menghadapi segala sesuatu yang merangsang kemampuannya untuk bertindak secara terstruktur dan rasional sebagai makhluk yang mempunyai pikiran. Adapun kecerdasan atau intelegensi manusia mempunyai implikasi sebagai suatu kemampuan adalah sebagai berikut:
1)      Kemampuan mengklasifikasi pola-pola objek.
Seorang yang normal adalah orang yang mampu dalam mengklasifikasikan stimulasi-stimulasi yang tidak identik kedalam satu kelas atau rumpun.
2)      Kemampuan beradaptsi (kemampuan belajar)
Kemampuan beradaptsi merupakan suatu kemampuan yang harus manusia miliki dalam kehidupannya dan kemampuan beradaptsi ini menentukan intelegensi atau kcerdasan seseorang apakah inteligensinya tinggi atau rendah.
3)      Kemampuan menalar secara deduktif
Yaitu kemampuan menalar atau melogikakan sesuatu dari kesimpulan menjasi paparan yang detail
4)      Kemampuan menalar secara induktif
Yakni kemampuan penalaran atau melogikakan sesuatu yang berupa paparan atau penjelasan menjadi suatu kesimpulan yang mewakili.
5)      Kemampuan mengembangkan konsep
Yaitu kemampuan seseorang memahami suatu cara kerja objek atau fungsinya dan kemampuannya untuk mengintewrpretasikan suatu kejadiaan.
6)      Kemampuan memahami
Kemampuan memahami adalah kemampuan seseorang dalam melihat adanya hubungan atau relasi didalam suatu masalah dan kegunaan-kegunaannya bagi pemecahan masalah tersebut. 

10.  George D. Stoddard
Mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan manusia untuk menyelesaikan masalah yang bercirikan:
1)      Mengandung kesukaran
2)    Kompleks, yaitu mampu menyerap kemampuan baru yang sudah dimiliki untuk menghadapi masalah.
3)      Abstrak, yaitu mengandung simbol-simbol yang memerlukan analisis dan interpretasi
4)      Ekonomis, yaitu proses mental yang efisien dari penggunaan waktu.
5)      Diarahkan pada satu tujuan
6)      Mempunyai nilai sosial dan berasal dari sumbernya.

11.  Charles Spearman
Menurut Spearman intelegensi mengandung 2 macam faktor, yaitu
1)      General ability atau general faktor (faktor G)
Faktor ini terdapat pada semua individu, tetapi berbeda satu dengan yang lainnya. Faktor ini selalu didapati dalam semua “performance”.
2)      Special ability atau special faktor (faktor S)
Faktor ini merupakan faktor yang khusus mengenai bidang tertentu. Dengan demikian, maka jumlah faktor ini banyak, misalnya ada S1, S2, S3, dan sebagainya sehingga kalau pada seseorang faktor S dalambidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut.
Menurut Spearman tiap-tiap “performance” adanya faktor G dan faktor S, atau dapat dirumuskan.P=G+S

12.  Edward Lee /Thorndike
Teori Thorndike menyatakan bahwa intelegensi terdiri dari berbagai kemampuan spesifik yang ditampikan dalam wujud perilaku intelegensi. Thorndike dengan Teori Multi-Faktor menyatakan bahwa intelegensi itu tersusun dari beberapa faktor yang terdiri dari elemen-elemen, tiap elemen terdiri dari atom-atom, dan tiap atom itu terdiri dari stimulus-respon. Jadi, suatu aktivitas adalah merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya.

13.  J.P. Guildford
Teori Guilford banyak membicarakan mengenai struktur intelejensi/kecerdasan seseorang yang banyak mengarah pada kretivitas seseorang. Guilford menerangkan tentang Kecerdasan yang di diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menjawab melalui situasi sekarang untuk semua peristiwa masa lalu dan mengantisipasi masa yang akan datang. Dalam konteks ini maka yang namanya belajar adalah termasuk berpikir, atau berupaya berpikir untuk menjawab segala masalah yang dihadapi. Konsepnya memang kompleks, karena setiap masalah akan berbeda cara penanganannya bagi setiap orang. Untuk itu diperlukan perilaku intelejen, yang tentu sangat berbeda dengan perilaku nonintelejen. Yang pertama (perilaku intelejen) ditandai dengan adanya sikap dan perubahan kreatif, kritis, dinamis, dan bermotif (bermotivasi), sedangkan yang kedua keadaannya sebaliknya. Pengertian kebiasaan juga mengandung arti kebiasaan kreatif, bukan kebiasaan pasif reaktif (mekanis) seperti pada pandangan kaum behavioris.

14.  Thurstone
Thurstone mempunyai pandangan tersendiri. Dia berpendapat bahwa dalam intelegensi terdapat faktor-faktor primer yang merupakan “group factor”, yaitu.
1)      Spatial relation (S)
Kemampuan untuk melihat gambar tiga dimensi
2)      Perceptual speed (P)
Kecepatan dan ketepatan dalam mempertimbangkan kesamaan dan perbedaan atau dalam merespon detil-detil visual.
3)      Verbal comprehension (V)
Kemampuan memahami bacaan, kosakata, analogi verbal, dan sebagainya.
4)      Word fluency (W)
Kecepatan dalam menghubug-hubngkan kata dengan berbagai rima dan intonasi.
5)      Number facility (N)
Kecepatan ketepatan dalam perhitungan
6)      Associative memory (M)
Kemampuan menggunakan memori untuk menghubungkan berbagi assosiasi.
7)      Induction (I)
Kemampuan untuk menarik suatu kesimpulan suatu prinsip atau tugas. Menurutnya faktor-faktor tesebut berkombinasi sehingga menghasilkan tindakan atau perbuatan yang intelegen.

15.  Vernon (1905)
Vernon mengemukakan model hierarki dalam menjelaskan teori inteligensinya.vernon menempatkan satu faktor umum dipuncak hierarki.dibawahnya kemudian terdapat faktor inteligensi yang utama (mayor)yaitu verbal educational (v:ed) dan practical mechanical(k:m). Masing-masing kelompok mayor itu terbagi dalam beberapa faktor kelompok minor yang terpecah lagi menjadi bermacam-macam faktor spesifik pada tingkat hierarki yang paling rendah. Mengenai faktor spesifik sendiri, Vernon sendiri beerpendapat bahwa sebenarnya faktor-faktor spesifik itu tidak banyak memiliki nilai praktis, dikarenakan kurang jelasnya relevasinya dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu menurut Vernon ,lebih baik membicarakan faktor-faktor umum dikarenakan faktor irulah yang berkorelasi lebih konsisten dan subtansi dengan masalah kehidupan sehari-hari.

16.  Cattell (1905)
Raymon Cattle dkk mengklasifikasikan inteligensi kedalam dua katagori yaitu:
1)      Fluid intelligence (kecerdasan cair)
2)      Crystallized intelligence ( kecerdasan kristal)
Kecerdasan cair dan kecerdasan kristal dicetuskan sekitar tahun 1960an. teori ini merupakan perkembangan dari teori General Intelegence. Dalam hal ini kecerdasan cair dan kristal dinyatakan sebagai kecerdasan umum. Kecerdasan cair adalah kecerdasan yang berbasis pada sifat biologis. Kecerdasan cair meningkat sesuai bertambahnya usia mencapai  puncak pada saat dewasa dan menurun pada saat tua  karena proses biologis tubuh. Sedangkan  kecerdasan kristal adalah  kecerdasan yang diperoleh pada proses  pembelajaran dan pengalaman hidup. Jenis kecerdasan ini dapat terus meningkat,tidak ada batasan  maksimal, selama manusia masih bisa dan mau belajar. Intelegensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 tahun atau 15 tahun,sedangkan intelegensi Crystallized masih terus berkembang sampai usia 30-40 tahun bahkan lebih.

17.  Piaget(1950)
Setiap anak memiliki cara tersendiri dalam mengintepretasi dan beradaptasi pada lingkungannya. Menurutnya, setiap anak  memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkunganya.pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi(menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran)dan akomodasi (proses memanfaatakan konsep-konsep dalam fikiran untuk menafsirkan objek).kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibat ketidakseimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur baru. Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistim kognisi seseorang berubah dan berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Menurut piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek, yaitu:
1)      Isi : disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah
2)      Struktur : disebut juga scheme seperti yang dikemukakan diatas
3)      Fungsi : disebut fungtion, yaitu yang berhubungan denagan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi invariant, yaitu organisasi dan adaptasi.
a.       Organisasi: berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses-proses fisik dan psikisdalam bentuk system-system yang koheren
b.      Adaptasi : yaitu penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya.

18.  Amathur
Amathuer (polhaupessy, 1993 : 3-4) berpendapat bahwa intelegensi merupakan suatu kesatuan dari seluruh kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Intelegensi ditanggapi sebagai sesuatu struktur tersendiri, didalam keseluruhan struktur kepribadian seorang manusia. Amathuer menjelaskan bahwa intelegensi seseorang dapat dilihat melalui prestasi yang dicapai.


 REFERENSI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feedback please ...