Powered By Blogger

Kamis, 19 Mei 2011

Komunikasi Kelompok dalam Dunia Maya




Masing-masing dari kita mempunyai kebutuhannya sendiri dan masing-masing dari kita memerlukan orang lain untuk membantu kita memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, agar segala hal yang ingin kita tuju dapat berjalan dengan sukses maka berkumpullah kita dalam suatu wadah yang bernama kelompok. Di mana di dalam kelompok ini, antara orang satu dengan orang yang lainnnya dapat saling membantu memecahkan masalah, bersama-sama mengeluarkan pendapat serta sharing mengenai suatu hal. Dan semua itu membutuhkan komunikasi agar apa yang didiskusikan dalam kelompok tersebut dapat tersampaikan dengan baik dalam diri masing-masing anggota kelompok.


Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Sedangkan Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.

Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.

Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan, yaitu melaksanakan tugas kelompok dan memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok yang disebut prestasi (performance), sedangkan tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.

Untuk itu faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu ukuran kelompok, jaringan komunikasi, kohesi kelompok, dan kepemimpinan (Jalaluddin Rakhmat, 1994).

Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan oleh adanya fungsi-fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi-fungsi tersebut mencakup fungsi hubungan sosial, pendidikan, persuasi, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dan fungsi terapi. Semua fungsi ini dimanfaatkan untuk pembuatan kepentingan masyarakat, kelompok dan para anggota kelompok itu sendiri.

Permasalahan yang terjadi saat ini adalah ketika komunikasi yang dilakukan oleh anggota kelompok tidak lagi secara langsung, melainkan menggunakan teknologi internet dalam situs jejaring sosial. Salah satu situs tersebut adalah facebook atau yang biasa disapa dengan sebutan ‘fb’. FB merupakan tempat untuk bersosialisasi, saling bertukar pikiran atau berbagi informasi. Jika dilihat dari kacamata psikologi sosial, ada relasi-interpersonal dan juga intragroup. Karena sosialisasi terjadi dalam dunia maya, maka individu-individu (dalam hal ini yang dimaksudkan ‘facebookers’) tidak berinteraksi secara langsung antara satu sama lain. Ditinjau dari berbagai sudut pandang teori psikologi kelompok, berkelompok didasari pada interaksi antar individu, satu tujuan, memiliki kecocokan, ada kebutuhan inklusi, kontrol, dan afeksi (Shaw,1979).



Interaksi dunia maya melalui facebook nampaknya sangat diminati. Berkelompok dan berinteraksi dalam dunia maya, sebenarnya kurang memenuhi kriteria teori kelompok diatas. Para facebookers jelas tidak melakukan sebuah kontak langsung antar anggota. Ada sebuah ‘interaksi sosial berkelompok’ yang keliru. Dan nampaknya dunia maya (dalam hal ini Facebook) telah membuat esensi dari interaksi berkelompok menjadi bergeser.

      Namun demikian, bersosialisasi dan berkelompok di dunia maya bukanberarti tidak dapat berlangsung dengan baik. Bahkan hal ini jelas memudahkan kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi, jarak yang jauh pun tak jadi masalah lagi sekarang. Hanya saja sebuah ‘kehangatan’ dari pertemanan langsung kurang dapat dirasakan di dunia maya.

Oleh karena itu, kita perlu menyeimbangkan antara interaksi dengan menggunakan facebook dan interaksi secara langsung dengan orang yang bersangkutan. Sehingga kehangatan dari pertemanan itu dapat kita rasakan. Menggunakan facebook juga tidak boleh terlalu berlebihan, agar hal-hal lain yang lebih penting dari situs ini tidak terbengkalai, seperti belajar atau mengerjakan tugas sekolah. Jadi, boleh menggunakan facebook hanya saja waktunya juga harus diperhatikan.

Interaksi dengan teman di dunia nyata harus selalu dijaga, agar hangatnya persahabatan selalu terasa di dalam kehidupan kita. Namun, hal yang paling penting adalah kesadaran dari individu masing-masing. Kebutuhan akan pertemanan dengan orang lain akan dirasakan oleh diri kita sendiri. Jadi, apabila ada sesuatu yang kurang dalam interaksi dengan teman, maka kita bisa interospeksi sendiri sebenarnya hal-hal apa saja yang kurang sehingga bisa cepat diperbaiki sebelum konflik-konflik yang tidak diinginkan muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feedback please ...