1. Pengertian Umum
Menurut Davis O. Sears, psikologi sosial adalah usaha sistematis untuk memahami perilaku sosial, yakni :
- Bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial
- Bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita
- Bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial
Menurut Gordon Allport (1985), psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, baik secara nyata/aktual, dalam bayangan/imajinasi dan dalam kehadiran yang tidak langsung (implied).
Menurut Davis O. Sears, psikologi sosial adalah usaha sistematis untuk memahami perilaku sosial, yakni :
- Bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial
- Bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita
- Bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial
Menurut Gordon Allport (1985), psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, baik secara nyata/aktual, dalam bayangan/imajinasi dan dalam kehadiran yang tidak langsung (implied).
2. Rangkuman teori-teori
A. Memahami Orang Lain
A. Memahami Orang Lain
a. Charles Darwin à ekspresi emosi manusia bersifat universal. Emosi dasar manusia sendiri dibagi menjadi 6, yaitu gembira, marah, muak/jijik, takut, sedih, dan heran/ terkejut.
b. Paul Ekman dan J.E.Prawitasari à melakukan eksperimen.
- Dilakukan pemotretan terhadap ekspresi wajah orang dani (Papua), yang baru menonton bangkai babi.
- Ekspresi muka emosi jijik suku dani (Papua) dalam bentuk foto, ditunjukkan kepada orang Sumbar dan Amerika. Hasilnya, ternyata ekspresi tersebut dikenali orang Sumbar dan Amerika.
c. Bagian tubuh yang paling ekspresif
- Bagian wajah yang paling banyak memberikan info emosi seseorang adalah mata dan mulut.
- Mata adalah “jendela hati”. Ia dapat mengekspresikan emosi seseorang yang paling dalam.
- Aktivitas di sekitar mata dan mulut dapat membedakan apakah seseorang benar-benar tersenyum atau pura-pura tersenyum. Ekspresi tersenyum gembira benar-benar berbeda dengan ekspresi lainnya (Ekman dkk.).
- Malu dan berpikir berat diekspresikan melalui mulut. Seseorang sering menutup mulut saat malu atau berpikir berat.
d. Relativitas Ekspresi
- faktor situasi: wajah yang netral akan tampak gembira saat disandingkan dengan wajah yang sedih.
- faktor budaya: orang Indian sangat luar biasa dalam mengontrol diri. Mereka tidak mau menunjukkan rasa sakit, mengaduh atau merintih di hadapan musuh, sekalipun musuh menghujamkan tombak di hulu hati mereka.
- faktor peran: ekspresi wajah SBY (juga Soeharto dulu) sangat stabil (tenang) sekalipun mereka berhadapan dengan berbagai situasi yang berat. Misal: saat SBY membahas tentang masalah LAPINDO.
e. Perbedaan pria dan wanita dalam ekspresi emosi
- Wanita lebih hangat, emosional, halus, sopan, dan peka, serta menurut pada aturan. Laki-laki cenderung stabil, dominan, dan impulsif (Prawitasari dan Kahn, 1985).
- Wanita punya suasana hati yang secara relatif lebih dinamis dibanding pria. Penelitian George Graham dkk. Menemukan bahwa “sistem limbik interior” pada wanita lebih aktif ketimbang terjadi pada pria saat sedang sedih. Jika wanita sedang sedih, maka aktivitas pada bagian itu meningkat hingga 2x dibandingkan pria. Tetapi pria cepat berubah suasana hatinya termasuk suasana hati negatif.
- Wanita lebih peka mengenali emosi yang diekspresikan model laki-laki atau perempuan (Rotter dan Rotter, 1988).
- Khusus terhadap ekspresi marah, laki-laki lebih peka (Rotter dan Rotter, 1988).
- Khusus pada emosi malu, subjek wanita menilai ekspresi emosi model secara lebih intens. Wanita Indonesia biasa mengekspresikan dan mengartikan ekspresi malu (Prawitasari, 1993)
B. Kompetensi Interpersonal à kemampuan untuk melakukan interaksi antar pribadi secara efektif.
a. Kemampuan berinisiatif: kemampuan untuk memulai hubungan dengan orang lain. Uraian:
- memperkenalkan diri kepada seseorang yang ingin dikenal
- melanjutkan percakapan
- mengusulkan kepada kenalan untuk melakukan aktivitas bersam-sama
b. Kemampuan untuk membuka diri: kemampuan untuk mengungkap info yang bersifat pribadi mengenai diri sendiri kepada orang lain. Uraian:
- menyampaikan hal-hal yang menyenangkan
- menyampaikan hal-hal yang menakutkan dan mencemaskan
- memberi kesempatan kepada kawan/ sahabat untuk mengenal diri kita
c. Kemampuan bersikap asertif: kemampuan untuk mengungkapkan perasaan secara jelas dan dapat mempertahankan hak secara tegas dengan cara yang santun. Uraian:
- menegur sahabat yang bertindak tidak benar dengan cara yang santun
- menolak permintaan yang tidak disukai dengan cara yang santun
- mengungkapkan bahwa kita tidak berkenan dengan cara dia memperlakukan kita dengan cara yang santun
- meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan
d. Kemampuan memberi dukungan emosional: kemampuan memberi dukungan untuk mengekspresikan perhatian, kesabaran, simpati kepada orang lain. Uraian:
- sabar mendengar cerita orang lain
- dapat menunjukkan sikap mendukung perjuangan atau usaha
- dapat mengatakan sesuatu secara tepat pada kawan yang kecewa
e. Kemampuan mengatasi konflik: kemampuan untuk mencairkan ketegangan atau konflik dengan orang lain. Uraian:
- mendatangi dia sekalipun dia yang lebih bersalah
- mampu memandang konflik dari sudut pandang lain (merekatkan clique dalam suatu kelompok)
- tidak mengulangi ucapan atau tindakan yang dapat memperburuk konflik
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi interpersonal
a. Eksternal
• Pola asuh (Hetherington & Parke, 1986).
• Interaksi dengan teman sebaya (Kramer & Gottman, 1992)/gaya kelekatan aman dengan teman sebaya (Nurrahmati, 1995).
• Partisipasi sosial (Hurlock, 1980).
b. Internal
• Kematangan beragama (Nashori, 2000).
• Konsep diri (Nashori, 2000)
C. Agresivitas
Menurut Berkowitz (1995) agresi adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan
untuk menyakiti seseorang, baik secara verbal maupun non verbal.
C. Agresivitas
Menurut Berkowitz (1995) agresi adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan
untuk menyakiti seseorang, baik secara verbal maupun non verbal.
a. Ciri-ciri
• Ada niat atau maksud untuk menyakiti. Tanpa niat menyakiti, suatu perilaku atau tindakan tidak disebut agresif.
• Sasaran perilaku meliputi fisik dan psikologis.
b. Ragam agresi
Menurut (Brigham, 1991)
• Agresi Menyerang: perilaku agresi yang dilakukan seseorang terhadap orang lain dengan maksud menyakiti orang lain. Contoh: penjajah yang menyakiti bangsa jajahan, majikan yang menyakiti PRT.
• Agresi balas dendam: perilaku agresi yang dilakukan dengan alasan untuk menanggapi provokasi orang lain. Contoh: Orang Palestina melempar batu ke tentara Israel; tentara Israel membombardir mereka.
Menurut (Sears dkk, 1994)
• Agresi prososial: perilaku agresi yang diatur dan disetujui oleh norma sosial. Mis: polisi memukul penjahat.
• Agresi yang disetujui: perilaku agresi yang tak disetujui norma sosial, namun masih ditoleransi untuk dilakukan. Mis: pelatih menempeleng pemain yang melakukan kesalahan.
• Agresi antisosial: perilaku agresi yang dilarang oleh norma sosial. Mis: menyiksa orang miskin, menyiksa anak-anak.
c. Aspek-aspek agresi (Buss & Perry, 1992)
• Agresi Fisik: agresi pada orang lain yang dilakukan secara fisik (memukul, menendang, menusuk, dsb).
• Agresi Verbal: agresi pada orang lain yang dilakukan dengan ucapan (lisan, tertulis) seperti menumpat, mengejek, menyindir, dsb.
• Kemarahan: perasaan marah terhadap orang lain.
• Kebencian: penilaian yang negatif dan perasaan tidak suka terhadap orang lain
d. Sebab-sebab agresi
• Kepribadian: Temperamental.
• Komunikasi: Cara komunikasi yang salah dari orang lain
• Frustrasi: Perasaan berputus asa.
• Provokasi: Dipanas-panasi oleh situasi atau orang lain. Bisa berupa isyarat agresif
• Modelling: contoh yang diberikan orang lain terutama the significant other.
• Lingkungan fisik: suhu yang panas.
D. Daya Tarik Interpersonal à suatu keadaan di mana seseorang dinilai oleh orang lain memiliki kepribadian yang baik/menyenangkan.
D. Daya Tarik Interpersonal à suatu keadaan di mana seseorang dinilai oleh orang lain memiliki kepribadian yang baik/menyenangkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik interpersonal
a) Karakteristik pribadi
- Kompetensi
Kita menyukai orang yang trampil secara sosial, cerdas dan kompeten.
- Kompetensi
Kita menyukai orang yang trampil secara sosial, cerdas dan kompeten.
- Kehangatan Personal
Kehangatan merupakan karakteristik pokok yang mempengaruhi kesan kita
mengenai orang lain. Yaitu, memiliki sikap positif terhadap orang dan benda
(ramah, gembira, terbuka, tulus, jujur, hangat, periang, dsb).
- Daya Tarik Fisik
Kita menilai orang yang memiliki daya tarik fisik (cantik/cakep, penampilan
baik).
b) Kesamaan
Latar belakang etnik, agama, politik, kelas sosial, pendidikan, dan usia mempengaruhi daya tarik (Sears dkk, 1991).
c) Keakraban
Keakraban menimbulkan rasa suka. Makin sering seseorang melihat wajah, maka makin meningkat rasa suka terhadap wajah tersebut. (Moreland & Zajonc, 1982).
d) Kedekatan
Semakin dekat tempat tinggal kita dengan seseorang maka makin tinggi rasa suka terhadap orang tersebut.
E. Prasangka dan Diskriminasi
• Prasangka sosial adalah sikap negatif terhadap anggota kelompok sosial tertentu yang hanya didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok itu (Feldman, 1985).
• Diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang berdasarkan (atau setidak‑tidaknya dipengaruhi oleh) keanggotaan kelompoknya (Sears dkk, 1991).
• Menurut David O Sears dkk (1991), orang yang berprasangka umumnya mempunyai sedikit pengalaman pribadi dengan kelompok yang diprasangkai. Prasangka cenderung tidak didasarkan pada fakta-fakta objektif, tetapi didasarkan pada fakta‑fakta yang minim yang diinterpretasi secara subjektif.
• Penelitian Zainal Abidin (2006) pada suku Sunda menunjukkan fakta yang berbeda. Ternyata semakin banyak bergaul dengan orang-orang Batak bukannya semakin berkurang prasangka etnisnya, tapi justru makin meningkat.
• Cook (Baron & Byrne, 2003): kontak antar etnis dapat mengurangi prasangka etnis hanya jika memenuhi beberapa syarat berikut:
1) anggota etnis yang berinteaksi harus memiliki status sosial dan ekonomi yang sama (sejajar).
2) kontak atau perjumpaan harus berbentuk kerjasama atau interdependensi, sehingga di antara mereka bisa bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
3) Kontak atau perjumpaan harus bersifat informal, sehingga mereka dapat mengenal secara personal.
4) perjumpaan harus dalam satu setting di mana norma-normanya mendukung kesamaan kelompok.
F. Altruisme dan Prososial
• Altruisme adalah kecenderungan perilaku untuk memberikan suatu pertolongan atau bantuan secara sukarela, tanpa mengharapkan apapun kecuali kebaikan bagi orang yang ditolong.
• Tanda Altruisme
- Perilaku baik dilakukan secara rahasia.
- Spontanitas dalam perbuatan baik
• Prososial adalah kecenderungan untuk memberi bantuan atau pertolongan kepada orang lain yang memiliki dampak positif bagi orang lain, namun tidak diketahui niatnya.
• Altruisme sukarela; prososial sukarela dan maksud lain.
• Pemberian pertolongan saat emergensi dipengaruhi oleh beberapa hal:
- Besar kecilnya kelompok: Semakin banyak orang dalam kelompok saat menghadapi emergensi akan semakin menguat diffusion of responsibility (ketidakjelasan tanggung jawab). Bila sendirian, orang merasa bertanggung jawab.
- Biaya Menolong: Saat memberi pertolongan banyak biaya yang harus
dikeluarkan oleh si penolong, yaitu biaya materi (uang, waktu, tenaga, peluang,
dsb) dan biaya psikologis (ikut sedih, trauma, dsb). Bukan hanya saat menolong,
tapi juga biaya untuk mengembalikan ke kondisi semula (victim cost).
- Kondisi intern penolong: Pandangan/nilai hidup yang diikuti, mood, empati, tontonan yang baru ditonton (orang yang baru bersedih lebih sedikit memberi bantuan), dsb.
G. Cinta dan Pernikahan
a. Jenis cinta
• Cinta Passionate (Nafsu) – Eros
Ada dorongan internal untuk mencintai. Ada nafsu – sejenis ketertarikan fisik kepada orang yang dicintai.
• Cinta Persahabatan – Storge
Ada perasaan terikat satu sama lain di mana pasangan yang dicintai berperan sebagai sabahat/teman dalam berbagi ceria dan duka
• Cinta Posesif – Mania
Mementingkan kepemilikan; orang yang dicintai adalah miliknya. Cemburu bila ada orang lain bersama orang yang dicintai.
• Cinta Main-main – Ludus
Mementingkan kesenangan sesaat bersama orang yang dicintai.
• Cinta Logis – Pragma
Mempertimbangkan latar belakang dan tujuan jangka panjang.
• Cinta Tanpa Pamrih – Agape
Mementingkan pengorbanan pada orang yang dicintai.
b. Cinta pria dan wanita
• Pria lebih tinggi dari wanita dalam:
- Cinta Passionate (Eros)
- Cinta Main-main (Ludus)
• Wanita lebih tinggi dari pria dalam:
- Cinta Persahabatan (Storge)
- Cinta Posesif (Mania)
- Cinta Logis (Pragma)
- Cinta Tanpa Pamrih (Agape)
• Alasan jatuh cinta
- Keinginan/dorongan seksual (orang yang dicintai menarik secara fisik)
- Kebutuhan untuk mempertinggi identitas diri (menginginkan seseorang yang bantu kembangkan rasa seni, intelektualitas, profesional).
- Stres (ingin tak kesepian, kecemasan, harga diri yang rendah berkurang).
- Tekanan umur dan sosial (umur semakin bertambah dan tuntutan sosial agar orang menikah): cinta bisa dipupuk/ditumbuhkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
feedback please ...